Dalam mendidik anak, baik di sekolah maupun di rumah, kita kerap mengalami kebingungan bagaimana memberikan imbalan atau hukuman yang tepat. Tiadanya pengetahuan yang benar tentang cara memberi hukuman serta tidak adanya pengertian yang tepat tentang fungsi hukuman membuat kita sering memperlakukan anak sebagai obyek-pendidikan yang harus siap menerima perlakukan yang keliru dari pendidik.
Haruskah demikian? Setiap orangtua atau pendidik perlu memahami prinsip-prinsip memberi imbalan (reward) dan hukuman (punishment) secara tepat agar mereka tidak melakukan salah asuh terhadap anak. Ketidaksanggupan pendidik, baik guru maupun orangtua, dalam memberikan imbalan dan hukuman secara tepat dapat menyebabkan anak berada dalam situasi yang membingungkan. Mengapa? Karena anak menjumpai perilaku pendidik yang cukup menakutkan bagi dirinya. Dalam situasi seperti ini dapat dipastikan anak selalu dipandang sebagai sosok yang berdiri di kutub kesalahan, sedang pendidik berdiri di kutub kebenaran.
Pendidik yang memiliki ambisi menaklukkan anak akan beranggapan dirinya telah berhasil setelah anak didiknya bersikap diam dan menurut. Ia tidak mengetahui bahwa sikap anak yang diam dan menurut itu didorong oleh rasa ketakutan luar biasa akan kegarangan guru atau orangtuanya. Jika berhasil lepas dari cengkraman ketakutan itu, dapat dipastikan, anak akan melampiaskan kebebasan dengan mengerjakan hal-hal yang lebih tidak masuk akal.
Tanpa disadari oleh pendidik, anak dimotivasi untuk berbuat dari satu titik ekstrim ke titik ekstrim lainnya.
Karena itu perlu ditemukan prinsip yang tepat dalam memberikan imbalan dan hukuman agar tidak timbul kebencian atau ketakutan pada anak. Akibat dari dua hal ini, sungguh, sangat tidak efektif bagi upaya pendidikan anak. Dalam situasi yang serba tertekan oleh rasa takut bagaimana mungkin anak dapat menyerap materi pendidikan secara optimal. Dalam kasus dan situasi tertentu ia mungkin tampak “duduk manis” dan menjadi seorang penurut. Ia bersikap demikian terutama bukan didorong oleh kesadaran diri dan motivasi untuk benar-benar bersikap kooperatif, melainkan didorong oleh rasa takut yang muncul dari dalam dirinya.
Bersambung ke artikel selanjutnya dengan judul "Memahami Fitrah Manusia Yang Cenderung Pada Kebaikan Dan Keburukan".


1 komentar:
memang banyak orang yang mendidik anak dengan cara yang kurang tepat, terutama dalam perhatian terhadap anak.....
siiiiipp, artikel ini sangat membantu kami dalam mendidik anak-anak...
Posting Komentar