Allah menciptakan manusia tidak dalam satu bentuk konstan yang baku. Manusia menjadi unik karena di dalam dirinya tersimpan dua kecenderungan yang saling tarik menarik, yakni kecenderungan baik dan buruk.
Untuk menjalankan kecenderungan itu Allah menganugerahi manusia kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan buruk. Dalam hal ini pendidikan Islam mengambil peran dengan berupaya mengembangkan sisi positif manusia agar selalu berada di jalur kebaikan dan meninggalkan jalan hiudp yang penuh kerusakan.
Allah Swt berfirman,
"Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan." (QS. al-Syams : 7-8).
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (QS. Al-Ruum : 30).
Mengapa kebanyakan manusia tidak mengetahuinya? Bagaimana cara agar mereka mengetahui? Apa formulasi jalan keluar yang harus ditempuh agar pada diri manusia selalu terhubung dengan kesadaran bahwa dirinya selain sebagai hamba Allah juga sekaligus mengemban amanah Khalifah di bumi?.
Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan ikhtiar pendidikan yang benar-benar memperhatikan potensi dan kecenderungan manusia secara apa adanya. Pendidikan merupakan sentra penyadaran dan pencerahan.
Akan lebih menarik apabila kita mencoba memandangnya dengan "kaca-mata" ketuhanan, di mana menurut Allah Swt. manusia yang paling baik adalah mereka yang paling bertakwa.
Allah Swt. berfirman,
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujuraat : 13).
Perbedaan yang disinyalir oleh Al-Qur'an tentu menunjukkan pula adanya perbedaan kemampuan, kesiapan, kesungguhan dalam menerima materi pendidikan. Tugas seorang pendidik adalah menghormati dan mengakomodasi setiap perbedaan itu. Sikap menyamaratakan kemampuan anak didik dalam segala aspek menunjukkan sikap ceroboh yang tidak memahami hakekat dan eksistensi manusia sebagai ciptaan Allah.
Adalah sebuah kekeliruan yang sangat fatal apabila manusia (anak didik) dipandang dalam sebuah "kaca-mata" yang serupa warnanya.
Tabiat manusia merupakan perpaduan dan sekaligus kombinasi antara kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu, perbuatan baik perlu mendapatkan imbalan (reward) dan perbuatan buruk, sebelum hal itu terjadi, perlu mendapat pemagaran. Al-Qur'an menawarkan upaya ini dalam metode targhib (janji) dan tarhib (ancaman).

