Adsense Indonesia Belajar Script Paid Review Indonesia Reviewmu.com

Memahami Fitrah Manusia Yang Cenderung Pada Kebaikan Dan Keburukan


Allah menciptakan manusia tidak dalam satu bentuk konstan yang baku. Manusia menjadi unik karena di dalam dirinya tersimpan dua kecenderungan yang saling tarik menarik, yakni kecenderungan baik dan buruk.

Untuk menjalankan kecenderungan itu Allah menganugerahi manusia kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan buruk. Dalam hal ini pendidikan Islam mengambil peran dengan berupaya mengembangkan sisi positif manusia agar selalu berada di jalur kebaikan dan meninggalkan jalan hiudp yang penuh kerusakan.


Allah Swt berfirman,
"Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan." (QS. al-Syams : 7-8).
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (QS. Al-Ruum : 30).

Mengapa kebanyakan manusia tidak mengetahuinya? Bagaimana cara agar mereka mengetahui? Apa formulasi jalan keluar yang harus ditempuh agar pada diri manusia selalu terhubung dengan kesadaran bahwa dirinya selain sebagai hamba Allah juga sekaligus mengemban amanah Khalifah di bumi?.

Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan ikhtiar pendidikan yang benar-benar memperhatikan potensi dan kecenderungan manusia secara apa adanya. Pendidikan merupakan sentra penyadaran dan pencerahan.

Akan lebih menarik apabila kita mencoba memandangnya dengan "kaca-mata" ketuhanan, di mana menurut Allah Swt. manusia yang paling baik adalah mereka yang paling bertakwa.


Allah Swt. berfirman,
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujuraat : 13).

Perbedaan yang disinyalir oleh Al-Qur'an tentu menunjukkan pula adanya perbedaan kemampuan, kesiapan, kesungguhan dalam menerima materi pendidikan. Tugas seorang pendidik adalah menghormati dan mengakomodasi setiap perbedaan itu. Sikap menyamaratakan kemampuan anak didik dalam segala aspek menunjukkan sikap ceroboh yang tidak memahami hakekat dan eksistensi manusia sebagai ciptaan Allah.

Adalah sebuah kekeliruan yang sangat fatal apabila manusia (anak didik) dipandang dalam sebuah "kaca-mata" yang serupa warnanya.


Tabiat manusia merupakan perpaduan dan sekaligus kombinasi antara kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu, perbuatan baik perlu mendapatkan imbalan (reward) dan perbuatan buruk, sebelum hal itu terjadi, perlu mendapat pemagaran. Al-Qur'an menawarkan upaya ini dalam metode targhib (janji) dan tarhib (ancaman).

[+/-] Selengkapnya...

BAGAIMANA KONSEP IMBALAN DAN HUKUMAN MENURUT PENDIDIKAN ISLAM

Dalam mendidik anak, baik di sekolah maupun di rumah, kita kerap mengalami kebingungan bagaimana memberikan imbalan atau hukuman yang tepat. Tiadanya pengetahuan yang benar tentang cara memberi hukuman serta tidak adanya pengertian yang tepat tentang fungsi hukuman membuat kita sering memperlakukan anak sebagai obyek-pendidikan yang harus siap menerima perlakukan yang keliru dari pendidik.


Haruskah demikian? Setiap orangtua atau pendidik perlu memahami prinsip-prinsip memberi imbalan (reward) dan hukuman (punishment) secara tepat agar mereka tidak melakukan salah asuh terhadap anak. Ketidaksanggupan pendidik, baik guru maupun orangtua, dalam memberikan imbalan dan hukuman secara tepat dapat menyebabkan anak berada dalam situasi yang membingungkan. Mengapa? Karena anak menjumpai perilaku pendidik yang cukup menakutkan bagi dirinya. Dalam situasi seperti ini dapat dipastikan anak selalu dipandang sebagai sosok yang berdiri di kutub kesalahan, sedang pendidik berdiri di kutub kebenaran.

Pendidik yang memiliki ambisi menaklukkan anak akan beranggapan dirinya telah berhasil setelah anak didiknya bersikap diam dan menurut. Ia tidak mengetahui bahwa sikap anak yang diam dan menurut itu didorong oleh rasa ketakutan luar biasa akan kegarangan guru atau orangtuanya. Jika berhasil lepas dari cengkraman ketakutan itu, dapat dipastikan, anak akan melampiaskan kebebasan dengan mengerjakan hal-hal yang lebih tidak masuk akal.

Tanpa disadari oleh pendidik, anak dimotivasi untuk berbuat dari satu titik ekstrim ke titik ekstrim lainnya.

Karena itu perlu ditemukan prinsip yang tepat dalam memberikan imbalan dan hukuman agar tidak timbul kebencian atau ketakutan pada anak. Akibat dari dua hal ini, sungguh, sangat tidak efektif bagi upaya pendidikan anak. Dalam situasi yang serba tertekan oleh rasa takut bagaimana mungkin anak dapat menyerap materi pendidikan secara optimal. Dalam kasus dan situasi tertentu ia mungkin tampak “duduk manis” dan menjadi seorang penurut. Ia bersikap demikian terutama bukan didorong oleh kesadaran diri dan motivasi untuk benar-benar bersikap kooperatif, melainkan didorong oleh rasa takut yang muncul dari dalam dirinya.


Bersambung ke artikel selanjutnya dengan judul "Memahami Fitrah Manusia Yang Cenderung Pada Kebaikan Dan Keburukan".

[+/-] Selengkapnya...

Kalo mau belajar PHP / HTML / MySQL dengan sangat mudah sambil langsung praktek, aku rekomendasikan anda belajar di sini «« sok atuh di klik biar situsnya keluar

New Comment

Follow This Blog